Lumina

merengkuh apa yang rapuh
menangis apa yang duka
tertawa apa yang nyata
.
tidak selain seringai
kita benci dalam cinta tak usai
.
Melirik sekilas cahaya mata
itukah dia yang realita?
aku diantara aurora dan lumina
tidak ada kita mendiam
kita tertawa..
.
Tebingtinggi, 1 Oktober 2008, 11:04 am

0 komentar: